Bener nih, tanpa pendidikan akademik kita bisa menulis? Bekal untuk menulis sepertinya tidak harus berlatar belakang akademisi tinggi, kecuali ingin berkarya pada tulisan-tulisan dan jurnal ilmiah. “Lha terus, orang tanpa pendidikan jurnalistik seperti saya ini apa ya bisa menulis?” “Lha setiap hari kan kirim sms, apa itu tidak bisa dikatakan menulis?” “Itu mah, ngetik, pakai jempol lagi.” Hahaha.. Apapun bentuknya jika outputnya bisa dibaca orang lain, itu saya sebut menulis.
Dalam tulisan terdahulu, telah disebut penulis-penulis yang telah mendapatkan hasil dari menulis, yaitu popularitas dan passive income, di antaranya JK Rowling, Ian Fleming, James Patterson. Dari dalam negeri ada Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, dan Raditya Dika. Kalau melihat karya mereka, mestinya kita setuju kalau menulis tidak harus menguasai bidang akademis tertentu. Cukup imajinasi, sering membaca, dan latihan menulis. Itu saja? Sementara ini, cukup itu saja. Kita lihat, Harry Potter penyihir cilik berbakat, tokoh ciptaan JK Rowling ini mampu membius para pembacanya. Ian Fleming dengan imajinasinya menciptakan sosok James Bond, agen rahasia yang super hebat, dengan alat-alat canggihnya yang belum ada di dunia nyata waktu itu, dan James Patterson dengan roman percintaannya, adalah bukti bahwa khayalan pun bisa ditampilkan tanpa referensi ilmiah yang mendalam.
Rasanya tidak ada topik ilmiah tentang Penyihir dan Akademi Sihir dalam jurnal-jurnal terbitan Oxford University. Tidak ada juga, kan Agen Rahasia flamboyan sebagai obyek tulisan dalam thesis doktoral? Tapi faktanya adalah JK Rowling telah mendapatkan jutaan dollar dari Harry Potter, hasil imajinasi dalam dunia khayalannya.
Begitupun Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy. Dengan imajinasinya, mereka mengaduk-aduk hati dan perasaan banyak orang lewat novelnya Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta. Latar belakang pendidikan tinggi yang mereka miliki memang mendukung alur cerita dalam karyanya, tidak dalam metode dan proses penulisannya.
Memang menulis itu tidak harus berpendidikan formal, namun jika memiliki bekal akademisi akan mendukung hasil karya kita. Senada dengan pernyataan mantan Wapres Jusuf Kala, “Menjadi saudagar tidak perlu sekolah, namun memiliki pengetahuan akan jauh lebih baik”, yang saya kutip menjadi “Menulis tidak harus berpendidikan tinggi, namun memiliki pegetahuan akan jauh lebih baik”. Hehehe..
Bagaimana pendapat anda?
Persembahan untuk istriku tercinta di hari bahagianya.
Selamat Ulang Tahun, sayang.